CILEGON – Pendidikan pondok pesantren sejak puluhan tahun silam selalu diasosiasikan sebagai ‘bengkel’ para calon santri yang memang bermasalah. Baik itu bermasalah dengan perilakunya, jiwanya, maupun pola pikirnya. Dan hal itu masih saja terjadi dan identik dengan pendidikan di pondok pesantren. Baik itu pesantren salafi tradisional maupun modern.

Tidak hanya itu, lulusan pesantren sejak dulu juga selalu identik hanya sebatas bisa menjadi guru agama di sekolah, ustadz di masyarakat, atau hanya menjadi kiai kampung.

Namun, sejak bermunculannya para cendekiawan Muslim seperti Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid (Gusdur) , Azyumardi Azra, KH Sa’id Agil Munawar lembaga pendidikan pesantren tidak lagi dipandang sebelah mata. Para alumni pesantren ternyata mampu melakukan terobosan baru.

Tidak hanya menjadi cendekiawan atau ilmuwan Muslim, para alumni pesantren ternyata bertebaran di berbagai bidang. Ada yang jadi novelis seperti Habiburrahman Asyirozi atau yang terkenal dengan Kang Abik, ada yang jadi budayawan seperti Emha Ainun Najib (Caknun), ada yang jadi anggota DPR RI seperti Tb Ace Hasan Syadeli, ketua partai politik seperti Muhaimin Iskandar,  ada yang menjadi penyanyi seperti group Wali, dan lain sebagainya.

Dengan banyaknya alumni pesantren yang tidak hanya menjadi guru agama, maka paradigma dan stigma terhadap dunia pendidikan pesantren mengalami pergeseran. Dari yang sebelumnya negatif menjadi positif dan optimis. Dengan semangat moderasi itulah lembaga pendidikan Pondok Pesantren Modern Alfurqon yang berlokasi di Lingkungan Tegal Cabe, Kelurahan Citangkil, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon siap menerima calon santri dari manapun untuk dididik menjadi santri yang moderat serta mempunya jiwa entrepreneurship dan leadership di masa mendatang. Hal itu disampaikan Sekretaris Pondok Pesantren Alfurqon Ustadz Muhammad Zein kepada oeridab.com, Minggu (31/1).

Ustadz Zein menuturkan, pesantren tempatnya berkhidmat, bisa menjadi laboratorium bagi para calon santri untuk dicetak sesuai dengan kebutuhan zaman.

“Di kita tidak hanya belajar mengaji dan belajar ilmu agama saja. Tapi di sini juga belajar ilmu-ilmu umum lainnya yang menjadi tuntutan zaman”, tutur Ustadz Zein.

Menurutnya, stigmatisasi terhadap santri sudah tidak ada lagi. Jika dulu pandangan terhadap santri hanya bisa berebut besek atau membawa besek, maka sekarang sudah tidak lagi.

“Sudah menjadi tuntutan zaman, santri tidak cuma bisa mengaji. Tapi harus mempunyai jiwa entrepreneurship dan leadership. Ini dilakukan agar siap menghadapi tantangan zaman”, terangnya.

Untuk memenuhi itu semua, kata Ustadz Zein, di Alfurqon santri diajarkan wirausaha dengan belajar langsung di beberapa unit usaha yang dimiliki pesantren seperti kantin, ada percetakan, fotocopi, pertanian, peternakan, depot, bahkan santri juga bisa terlibat pada kegiatan-kegiatan pesantren lainnya dengan mengelola produksi air minum kemasan Alfu dan masih banyak lagi.

“Jadi untuk bisa bersaing di zaman seperti sekarang ini, kami sudah siap mendidik dan mencetak santri yang tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tapi kemampuan ilmu umumnya juga bisa diperhitungkan”, ujarnya

Kata Ustadz Zein, karena sejatinya, lulusan santri itu bisa menjadi apa saja. Tidak hanya cuma menjadi guru ngaji atau guru agama.

“Tapi bisa juga mampu menguasai ilmu-ilmu non agama. Santri itu sebenarnya multi talenta. Cuma kadang masyarakat atau publik tidak menyadarinya”, imbuhnya. (rul/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here