oeridab.com – Segala aspek dalam kehidupan tidaklah lepas dari yang spiritualitas. Kehidupan nyata tidak lengkap jika tidak dilihat dari sudut metafisika, termasuk virus corona (covid-19).

Dalam pembahasan spiritual, sebagaimana dikutip askara, seorang ahli spiritual Eko Sriyanto GalGendu atau yang biasa disebut juga sebagai Sri Eka Sapta Wijaya GalGendu mencoba melihat hal tersebut dalam pandangan spiritual.

Seorang pria kelahiran Solo, 18 Juli 1967 yang dibesarkan dalam lingkungan organisasi lintas agama dan para Raja Raja Nusantara. pria yang akrab disapa Eka ini menyebut dirinya sosok yang pernah dekat secara spiritual dengan almarhum Gusdur, dan almarhum SISKS Pakubuwana XII. Saat ini menjabat sebagai Ketua Umum DPP LPK Lembaga Penghayat Kepercayaan di Indonesia.

Eka mengatakan, tahun 2003 lalu pernah berpidato dalam Centre for Strategic and International Studies (CSIS) terkait siklus tujuh abad. Dalam siklus tujuh abad ini ada perubahan zaman besar yang mempengaruhi dunia melalui peradaban.

Pada abad pertama, bangsa timur mengalami kemenangan yang ditandai dengan hadirnya wahyu Isa Almasih dan menjadi bangsa yang besar dan memiliki spiritual yang tinggi.

Sebelum kehadiran Isa Almasih, kata dia, manusia pada saat itu menyembah berhala, menuhankan diri sendiri atas kekuasaan dan kesombongan, hal ini terjadi secara global saat itu.

“Demikian juga pada abad ketujuh di wahyukannya Nabi Muhammad SAW, ketika sebelum diwahyukan seorang Nabi pasti kemudian ada peristiwa besar pada bangsa tersebut yaitu bangsa yang jahiliyah, kesombongan, lupa diri, euforia, radikalisme, aturan tatanan hilang semua, sehingga hadirlah yang namanya kebangkitan spiritual diwahyukannya Nabi Muhammad,” ungkapnya.

Kemudian, negara-negara besar yang dipandang memiliki spiritual yang tinggi dan kuat ini mendatangkan kekuatan ekonomi, politik, sosial, kekuatan budaya, keamanan, ketahanan. Hingga kemudian di tengah kejayaan, timbul pandangan baru bahwa agama yang paling dekat dengan Tuhan adalah agama yang punya wilayah yang paling luas.

“Maka berebutlah mereka untuk kemudian melakukan hal tersebut, berebut wilayah, kekuasaan. Maka bagaimana yang terjadi namanya penjajahan atau kolonialisme spiritual, atau agama pada saat itu mulainya, sampai kemudian mereka berhadapan antara agama Kristen, Katolik dan agama Islam, peranglah dan perang itu disebut Perang Salib,” ujarnya.

Perang Salib yang menimbulkan korban ratusan juta jiwa ini, tutur Eka, akhirnya menimbulkan suatu kesadaran bahwa agama lah yang menyelamatkan umat manusia.

“Jadi orang yang beragama Kristen akan menyelamatkan orang yang Kristen, dan umat lainnya juga umat Hindu, Budha juga, yang beragama Islam menyelamatkan, timbulkan kesadaran itu pada abad 11-12,” tuturnya.

Kemudian Eropa yang berhasil dalam revolusi industri menghadirkan virus yang namanya virus Black Death (Wabah Hitam) yang telah menimbulkan korban jiwa sebanyak sepertiga masyarakat Eropa.

“Maka Eropa itu paling nervous terhadap virus. Tetapi dari peristiwa itu lahir lah yang namanya reinassance di bangsa Eropa atau bangsa Barat, kebangkitan kesadaran pemikiran konsep dunia barat,” kata dia.

Orang Eropa akhirnya memetik pelajaran dan kesadaran bahwa mereka harus mengelola namanya bumi dengan sebaik-baiknya. Namun seiring perkembangan peradaban, kembali timbul pandangan saat ini Abad-21 yakni siapa yang dekat dengan Tuhan adalah agama yang umatnya paling banyak.

“Sekarang mereka berpikir agama yang dekat dengan Tuhan agama adalah umatnya yang paling banyak. Jadi kalau ada umatnya paling banyak ya di situlah merasa kebenaran, di sisi lain yang sudah mendapat pencerahan di Eropa atau bangsa barat untuk mengelola dunia yang namanya ilmu pengetahuan tehnologi, ekonomi, politik, sosial budaya, kemudian lupa diri juga,” paparnya.

Hingga akhirnya terjadi lagi manusia yang lupa diri, dengan kesombongan yang kemudian menimbulkan menuhankan dirinya sendiri, merasa paling berkuasa maka munculah yang namanya euforia dan radikalisme, baik dalam ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, sosial, persenjataan, agama, hingga budaya.

Hal ini pun membuat euforia dan radikalisme mempengaruhi tata kelola keharmonisan, di mana makrokosmos antara manusia dan alam bergeser, yang kemudian akhirnya virus corona (Covid-19) diciptakan.

“Nah di situlah kemudian virus covid-19 hasil dari bio teknologi, dari bio teknologi, ketika terjadi euforia dan radikalisme artinya terjadi sesuatu hal bahwa manusia keluar dari pada kontrol, keluar dari batasan, keluar dari pada nilai, bisa terjadi kemudian maksud dari pada ilmu pengetahuan dan bio teknologi untuk tujuan baik bisa menjadi tujuannya tidak baik, bisa kemudian untuk kekerasan, radikal, kemudian menjadikan teror,” tegasnya.

Lalu bagaimana dampak terhadap Indonesia? Eka menjelaskan, kehadiran corona harus menjadi pembelajaran bagi Indonesia untuk semakin tumbuh sebagai bangsa yang bisa melebihi bangsa-bangsa besar lainnya.

“Dalam kondisi seperti sekarang ini pasti berharap memiliki pemimpin yang besar, artinya bahwa kita bukan hanya bisa keluar dari wabah corona saja, tetapi bagaimana permasalahan ini bisa menjadikan pencerahan, bisa menjadikan kebangkitan dan bisa kemudian menjadikan suatu kekuatan untuk lebih bisa dari bangsa-bangsa lain di dunia, konsep spiritual saya seperti itu,” ungkapnya.

Menurut Eka, ada dua pilihan yang harus ditentukan Indonesia saat ini, yakni Indonesia mau bangkit atau mau terpuruk.

“Kalau Indonesia mau bangkit, pemimpin negara harus mampu menjadikan permasalahan Covid-19 sebagai kebangkitan, atau kebangkitan spiritual. Kalau dalam bahasa yang lebih itu reinassance untuk menyatukan, tetapi permasalahannya, presiden punya kemampuan gak dengan para pembantunya?” tandasnya. (aksara/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here